Sekedar Berbincang dengan Otak Saya

5 Menit Magis

tinta pemilu tumpah

Pertandingan mencari muka di pemilu 2014 Indonesia dibagi 2 babak, Pileg dan Pilpres. Pileg adalah memilih tokoh-tokoh berdasarkan ketajaman insting kita atau kepasrahan kita kepada Yang Maha Esa. Pilpres adalah memilih tokoh yang kita rasa kita mengenalnya begitu dekat atau yang paling tidak kita benci. Jika berita tentang caleg bunuh diri, stres atau berkelakuan aneh sudah bertebaran, itu tanda pileg sudah berlalu. Jika berita tentang persekongkolan partai, atau biasa disebut koalisi, sudah memenuhi media, itu tanda pilpres semakin dekat. Saya memiliki kesan tersendiri untuk babak pertama pemilu. Babak pertama ini saya namakan Omong Kosong Muka Tebal yang saling Berjejalan tanpa Kenal Waktu Menyerang Kita Tidak Bosan-Bosan. Terlalu panjang ya? Omong kosong memang tidak pernah ringkas, padat dan berisi kan?

Kita berada di tahap di mana telah menganggap semua hal yang berhubungan dengan politik adalah omong kosong, seperti kentut yang baunya sangit tapi nanti akan berlalu juga. Kita hanya peduli jika politik itu berhubungan dekat dengan kita. Lagi-lagi seperti kentut. Kita tidak pernah protes jika ada orang asing yang kentut di tempat umum kan? Lain ceritanya kalau kita kenal dengan orang yang kentut. Maaf kalau alegori kentut saya kurang masuk akal. Entah kenapa jika berbicara tentang politik yang terlintas di pikiran saya hanyalah kentut.

Kembali ke politik dan omong kosong. Bukalah koran di pagi hari dan kita akan menemukan sejuta alasan untuk menjadi pesimis. Mungkin ada pihak-pihak yang sengaja membeberkan betapa bangsat perilaku mereka kepada publik, bukan agar kita bangun dan melawan, melainkan agar kita menjadi pesimis dan lebih baik tidur saja di rumah. Hanya saja, ada satu omong kosong luar biasa hebat yang bisa membuat kita bangun dari kasur, menuju bilik suara dengan optimisme, mencoblos lalu kembali tidur. Lucunya, pelantun omong kosong ini kebanyakan dari pihak-pihak yang sama yang ingin kita pesimis dan tidur di rumah. Omong kosong itu kurang lebih berbunyi, “ayo mencoblos. Hanya butuh 5 menit untuk menentukan 5 tahun nasib Indonesia ke depan”. Gaya omong kosongnya bisa bermacam-macam, tendensinya tetap busuk. Omong kosong ini sudah naik satu tingkat, yakni ilusi.

Saya ingin menerangkan sesuatu. Kami, rakyat jelata yang awam politik, hidupnya hanya berpusat pada 2 hal; kesusahan dan kesenangan. Ada sebagian dari kami yang hidupnya meraba-raba dalam gelap mencari kesenangan. Kami sendiri tidak tahu seperti apa bentuk kesenangan itu. Raba-raba saja terus. Lalu, ada sebagian dari kami yang berusaha keluar dari lingkaran kesusahan. Kesusahan ini berhubungan dengan materi. Pilihan hidupnya hanya 2; menempuh berbagai cara untuk keluar dari lingkaran ini atau legowo sampai mati. Di manakah posisi politik negeri ini dalam prioritas hidup kami? Jangankan politik negeri, manusia di sebelah kami pun kami taruh di nomor sekian dalam daftar prioritas hidup. Tapi jauh di dalam lubuk kemunafikan kami, kami mendambakan mimpi yang sama. Mimpi untuk hidup dengan tenang, damai dan sejahtera. Ada sedikit harapan di balik apatisme kami.

Dengan adanya mimpi itu, slogan di atas terdengar tidak sesederhana yang tertulis. Di telinga kami, slogan itu berbunyi, “Ayo mencoblos. Cuma 5 menit doank kok. Mungkin, mungkin indonesia 5 tahun ke depan bisa berubah lebih baik. Setelah 5 menit itu, terserah kalian mau melakukan apa, kembali tidur atau bersenang-senang bersama keluarga. 5 menit untuk 5 tahun lebih baik.”

Garis bawahi kata ‘5 menit’ ini. Dalam pikiran kami, kapan lagi bisa merubah negeri ini dalam waktu 5 menit? Kami yang malas memikirkan negeri ini diberitahukan bisa berkontribusi hanya dengan waktu 5 menit? Tentu saja dengan perasaan yang optimis dan bangga, kami menuju TPS untuk memberikan suara kepada siapa entah kami tidak peduli, yang penting sudah mencoblos. Yang penting sudah merubah negeri ini.

Wahai manusia-manusia pelantun slogan ini, politikus, putra bangsa, tokoh masyarakat atau siapa pun kalian yang merasa manusia pilihan rakyat, bagaimana bisa kalian setega ini kepada kami? Silahkan Korupsi miliaran rupiah dan membantahnya. Tidurilah semua artis menggunakan uang kami. Bangunlah dinasti pemerintahan untuk keluarga kalian yang pemalas. Dengan hati pahit dan perih, kami mempersilahkan kalian mengutak-atik negeri ini. Tapi tolong jangan permainkan mimpi kecil kami. Hanya itu yang kami punya.

Logika 5 menit itu sangat berhasil mencungkil mimpi kami keluar dan berhasil juga menidurkan daya pikir kritis kami. Karena kalian sadar betul kami belum mampu membuat mimpi dan daya pikir kritis berjalan beriringan. Atau mungkinkah kalian memang tidak rela kami menggunakan otak kami sebagaimana mestinya? Kepintaran kami memang tidak pernah berbanding lurus dengan kekuasaan kalian.

ilusi dan logika
Saya seorang penganut demokrasi sampai saat ini. Demokrasi mendukung kebebasan berpendapat. Akal sehat saya pun menyatakan pendapatnya akan slogan itu. Jikalau kita telah memilih capres kita, berdasarkan pertimbangan matang, lantas apakah Indonesia akan berubah sesuai dengan yang dijanjikan capres itu? Akal sehat saya punya pendapat lain. Orang baik bisa menjadi jahat, orang jahat bisa menjadi orang baik, itu proposisi yang akal sehat saya kenal. Lalu, apakah sebaiknya kita golput saja? Tidak juga.

Ingat smiling general kita? Selama 32 tahun tangan besinya mencengkram kita dengan kehangatan palsu. Apakah karena banyak yang mencoblos dia? Saya yakin, 200 juta rakyat Indonesia golput pun, dia akan tetap berkuasa, persetan dengan konstitusi. Tapi mukjizat baru nyata jika 200 juta rakyat serempak turun ke jalan untuk menuntut dia bekerja dengan becus.
Bukan soal apa yang kita lakukan atau tidak lakukan selama 5 menit di bilik suara, tapi apa yang akan kita lakukan 5 tahun setelah keluar dari bilik suara. Itulah bagian tersulitnya. Tidak semudah yang dilantunkan para pembuai mimpi yang telah saya singgung di atas.

Saya yakin pasti ada yang mengomel tentang apa yang saya ajukan di atas. “Kita sudah membayar pajak, mentaati peraturan dan mencoblos, kewajiban apa lagi yang harus kita lakukan?” adalah omelan-omelan yang pasti akan tercuat. Saya hanya menganjurkan agar omelan-omelan itu diarahkan kepada para pejabat terhormat yang telah kita pilih selama 5 tahun mendatang. Omelan itu kita ubah sedikit menjadi, “Kita sudah membayar pajak, mentaati peraturan dan mencoblos, SEKARANG kewajiban apa yang BELUM KALIAN lakukan?”

Jika kita memaki-maki pemerintah selayaknya kita memaki pengendara ugal-ugalan di jalan, niscaya Indonesia bisa menuju ke mimpi kecil yang kita impikan bersama.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s