Bicara Topik

What Future Holds for Video Game

xbox-one-ps4-wii-u

We have Man of Steel, Apple WWDC, and E3 last week, but I stick with E3. Sorry, Alien and Steve Jobs.

Kita semua tahu minggu lalu adalah minggunya para geek.  Tekno geek bisa mengelu-elukan atau menghina-hina WWDC (Worldwide Developers conference) Apple. Comic geek akhirnya bisa menonton Superman beraksi tanpa celana merahnya dalam film Man of Steel. Sedangkan, mata, telinga, dan tangan video game geek berorgasme ria menikmati langsung kecanggihan konsol masa depan di E3.

Saya sendiri mengikuti berita ketiga hal itu. Saya saja sudah menonton Man of Steel  pada hari kedua pemutarannya di Indonesia (suatu kebanggaan karena saya tidak pernah menonton sebuah film secepat itu di bioskop). Tapi, maaf comic geek dan tekno geek, saya tidak akan membicarakan alien dan buah apel. Di tulisan ini, saya hanya akan membicarakan the ultimate interactive multimedia entertainment for human race, video game!

Saya sebenarnya seorang gamer. Bukan pecinta komik (saya sukanya manga), tapi pecinta kesenian dan sebenarnya baru sekarang-sekarang ini saja senang mengikuti perkembangan dunia teknologi. Masa kecil saya dipenuhi dengan hiburan interaktif ini. Dari saya kecil sampai sekarang, saya telah melewati  4 generasi konsol video game. Setelah memantau berita-berita yang bermunculan dari E3 mengenai generasi konsol selanjutnya, saya ingin mengajak berbincang-bincang melihat masa depan video game melalui tulisan ini.

Pertama, saya tidak terlalu terkesan dengan kecanggihan yang ditawarkan oleh Sony dan Microsoft, terutama Sony ya. SONY. Biasa saja. Kenapa? Mari kita flashback kembali ke 4 generasi sebelumnya (karena saya baru merasakan 4 generasi).

PS4

Berawal dari peralihan generasi  Super Nintendo atau SNES ke generasi Playstation (PS). Apakah teknologi baru yang ditawarkan oleh PS kepada para gamer? Compact Disc. Zaman SNES, jika kasetnya tidak berjalan, kita harus meniupinya dulu! Seninya adalah, bagaimana kita meniup kasetnya tanpa mengeluarkan air ludah setetes pun. Fiuuuh. Pada CD, jika tidak berjalan kita cukup gosok pelan-pelan saja seperti menggosok lampu jin. Mungkin cuma orang Indonesia yang melakukan itu. Tapi itu hanyalah perumpamaan bagaimana sangat terlihatnya kemajuan dari sebuah teknologi baru yang bernama PS itu. Dan masih banyak fitur-fitur lain yang mengubah cara kita bermain video game.

Sekarang kita beranjak ke peralihan PS2. Apanya yang berubah? Pertanyaan mudah. Dari CD ke DVD. Bukan hanya itu, PS2 lengkap bisa memutar film DVD juga.

Saya ingin sedikit bercerita. Saya pernah meminta orang tua saya untuk minta dibelikan PS2. Ayah saya lalu bertanya, “Apa bedanya dengan PS1? Kok harganya dua kali lipatnya? Sama-bisa buat main catur dan biliar kan?” Oh iya, ayah saya adalah maniak video game catur, biliar dan mancing. Maniak. Karena dia mematahkan rekor bermain video game saya, dari pagi ketemu malam. Kembali ke pertanyaan. Lalu, saya menjawab dengan mudah, “PS2 sekarang bisa buat muter film DVD, selain main video game. Jadi, kita enggak usah lagi beli DVD player, makanya harganya 2 kali lipatnya.” Cukup dengan menjawab itu, saya bisa membuat orang tua saya berpikir ulang untuk membelikan saya PS2. Walaupun perjuangan saya tidak hanya berhenti di situ, dan juga ternyata PS2 yang saya beli tidak bisa memutar DVD. Intinya, saya bisa “ngeles” dengan mudah untuk meyakinkannya. Kita belum berbicara fitur lain ya. Bahkan masih ada Gamecube dengan CD imutnya itu.

Lanjut ke generasi di mana saya tidak sempat merasakannnya, PS2 ke PS3, atau ke era high definition. Dari sebutannya saja kita sudah bisa menebak inovasi apa yang coba disuguhkan oleh generasi ini. It’s blu-ray, guys.  It even sounds cool. Walaupun hanya Sony yang menawarkannya

Semua generasi memiliki cirinya sendiri. Memiliki apa yang disebut inovasi untuk dijadikan nilai jual dan inovasi itu yang membuat sepadan uang yang telah kita gelontorkan untuk sebongkah benda elektronik ini.

Sekarang mari kita tanyakan kepada Sony, Microsot, dan Nintendo, terutama untuk Sony. SONY ya! inovasi apa yang kalian buat untuk menyatakan diri bahwa kita telah berada di generasi video game selanjutnya?

Ya. Pertanyaannya terutama untuk Sony. Kita buat sederhana saja.

nintendo Wii U

+ Nintendo

Rio                          : Nin, ada yang baru dari Wii U?

Nintendo             : Ada. Kita kasih tambahan hardware gamepad!

Rio                          :Wohooooo

+ Microsoft

Rio                          : Micro, Nintendo kasih kita gamepad donk. Xbox One mau kasih apa?

Microsoft            : kita kasih Kinect yang lebih canggih dari Kinect sebelumnya!

Rio                          : Mantap, gan!

+ Sony

Rio                          : Son, bagaimana PS4 nih?

Sony                      : Kita kasih kalian konsol dengan desain paling keren dibandingin konsol lain!

Rio                          : Wohoo! terus?

Sony                      : Kita kasih controller model baru dengan touchpad!

Rio                          : Yes. Terus?

Sony                      : Itu controllernya sekali pencet, bisa langsung upload video permainanmu lho!

Rio                          : Internet saya suka naik turun. Tidak ada kecanggihan yang lain?

Sony                      : ………….

(Sedangkan Microsoft skypean di gamepad. Nintendo joget-joget di depan Kinect. Sony hanya bisa mengupload video kesedihannya di internet)

xbox one

Semua yang saya bicarakan di atas kurang lebih adalah inovasi dalam bentuk hardware. Mungkin ada yang senang soal share button milik Sony, tapi itu bukanlah inovasi atau kecanggihan yang nyata, hanya selera saja. Ya, ya, ya. Microsoft memang payah soal kebijakan DRMnya, tetapi itu adalah kebijakan dan kebijakan bisa dirubah di masa mendatang. Nintendo game-gamenya casual? Yaa memang target pasarnya di sana. Kalau memang Nintendo memiliki niat lain, mereka bisa saja menggandeng developer game hardcore. Sony bisa cloud computing? Hey, kalau cloud computing memang banyak pemakainya, Sony, Microsoft dan Nintendo sudah tidak bikin konsol lagi. Lagi pula, konsol lain pun juga bisa melakukannya.

Di generasi ini, ini saya rasa pecundang sejatinya soal inovasi teknologi adalah Sony, mengingat mereka selalu konsisten memberikan kejutan inovasi pada generasi sebelumnya.

 Itu dia, saya membicarakan inovasi pada hardware (Jangan sebut-sebut Playstation Move dan juga jangan sebut-sebut hardware spec). Jika hanya berinovasi pada software saja, bisa dicuri dengan mudah oleh pesaing lain. Kita bicarakan yang nyata-nyata saja. Sony gagal di sini. Tapi, ada beberapa hal ingin saya bicarakan lagi, yakni masa depan video game dalam perspektif masing-masing perusahaan konsol yang dipertunjukkan di E3.

Kita lihat bagaimana Microsoft memandang konsol di masa depan. Saya sempat menemukan video lucu-lucuan di youtube tentang acara pengumuman Xbox One. Video ini diedit menjadi video yang menunjukkan seberapa banyak Microsoft menyebut kata ‘TV’ di acaranya, dan ternyata sangat banyak sekali. Mereka hanya menyinggung video game beberapa kali saja.

Saya melihat Microsoft memiliki visi ingin menjadikan Xbox One satu-satunya entertainment device di ruang TV kita semua. Microsoft ingin kita menyingkirkan semua perangkat elektronik yang tersambung televisi dan digantikan oleh Xbox One. Seperti Appe Tv, Blu-ray player, Tivo dan sebagainya. Xbox One tidak hanya sekedar menjadi konsol, Xbox One merambah aspek lain dari kesenangan yang kita dapat melalui TV.

Dengan Kinect juga, Microsoft memberikan sebuah dunia di mana kita tidak memerlukan lagi yang namanya remote untuk mengendalikan Tv kita. Di ruangan hanya ada TV, Xbox One, Kinect, dan kita yang tersungkur di sofa memandangi kehebatan Xbox One. Menurut saya,  itulah yang ingin dicapai Microsoft melalui Xbox One. Kita belum berbicara dengan ekosistem yang coba dibangun produk Microsoft lain seperti Windows 8. Microsoft menawarkan kemudahan.

Untuk Nintendo, sebenarnya kita tidak perlu berpikir keras apa yang coba Nintendo tawarkan di masa depan. Saya lihat Nintendo tetap konsisten dalam meningkatkan value gaming experience nya. Nintendo Wii, Wii u, Nintendo DS, dan Nintendo 3DS. Nintendo tidak akan atau mungkin belum bergerak ke ranah lain selain video game di mana mereka lah pemain paling tua saat ini. Itu bagus. Jika fokus Microsoft sudah ngalor-ngidul, tidak mengurusi video game, kita bisa lari ke Nintendo yang setia selalu menawarkan pengalaman video game yang terus meningkat. Menurut saya, inovasi yang dilakukan Nintendo seharusnya bisa disejajarkan dengan perusahaan teknologi besar seperti Apple atau Samsung. Tapi, Nintendo belum bisa membuat trend yang  benar-benar booming seperti yang Apple pernah lakukan.

Sekarang kita beralih ke Sony. Sebelum pengumuman PS4 (jika saya tidak salah), Sony diketahui membeli perusahaan cloud gaming bernama Gaikai. Semua mulai berspekulasi. Apa yang akan dilakukan Sony? Sebenarnya, satu hal yang membuat saya tertarik dengan masa depan Sony adalah pembelian Gaikai ini.

Saya berpandangan bahwa masa depan video game terletak pada dunia cloud gaming. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar soal cloud gaming, kalian bisa googling sendiri apa itu cloud gaming. Saya berani berkata dan memimpikan bahwa itulah masa depan video game. Jika perkembangan internet berlajan dengan konsisten, kita akan dihadapkan dengan tren baru ini di dunia video game.

Cloud-Gaming1

Sony melihat kesempatan ini, dan mereka mengamankan diri dengan membeli Gaikai. Kenapa? Karena, ini menurut saya lagi, mereka melihat di masa depan konsol mungkin tidak akan bertahan. bertahan melawan apa? Melawan cloud gaming. Maka dari itu, mereka membeli Gaikai, agar jika masa itu sudah datang, Sony masih bisa mencari uang tetap dari dunia video game. Saingan mereka saat ini adalah On live, yang akan menjadi pemain lama dalam cloud gaming ini. Sony mulai menguji cobanya denga PS Vita seperti yang kalian tahu. Bahkan, Sony mulai menggandeng developer game indie untuk diajak kerja sama. Makin terlihat dominasi Sony yang ingin sangat siap dengan cloud gaming ini. Mereka sedang menyiapkan peluru yang banyak.

The great Hideo Kojima melihat potensi gaming experience yang begitu luar biasa dari cloud gaming ini. Kojima sangat memimpikan ia bisa bermain video game di mana pun, dengan perangkat apa pun. Ia bahkan sudah memiliki konsep video game seperti apa yang akan dia buat di era cloud gaming.

Satu-satunya hambatan dari cloud gaming adalah koneksi internet di dunia ini yang belum mumpuni. Untuk video ukuran 720p saja, membutuhkan minimal koneksi internet 2 giga. Perkiraan saya, paling cepat 10 tahun lagi cloud gaming sudah bisa menjadi trend di dunia, tapi tidak tahu ya untuk Indonesia. Ini juga jika tidak ada peperangan atau faktor-faktor lainnya. Karena pasti ada saja pihak-pihak yang tidak menginginkan cloud gaming, karena merasa dirugikan.

That’s it. Itulah terawangan saya akan dunia video game dilihat dari produsen konsol terbesar saat ini. Sebenarnya masih ada faktor lain yang juga seru dibicarakan, seperti perkembangan mobile game yang signifikan. Tapi, tetap, tidak akan menggoyahkan tren cloud gaming yang akan tiba.

Saya memimpikan televisi saya terhubung dengan Xbox One dan Kinect agar saya tidak perlu mencari-cari remote lagi. Lalu dengan memakai controller milik Nintendo, saya memainkan game-game cloud gaming milik Sony. It’s heaven in living room.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s