Bicara Topik

Broadcasting TV dan Konsep

dahsyat

Gilak! Udah berapa lama ya gw gak nge-blog??? Lama banget dah! Tulisan gw yang dulu-dulu udah jadi fosil kali. Hahhahaha. Aduuhh. Maaf ya kalo lead atau teras tulisan ini (kyk tulisan berita aja) kurang asyik, pemanasan dulu. Hehe.

To the point aja, gw kali ini bener-bener ingin konsisten nge-blog. Kenapa? Karena ini adalah salah satu resolusi gw di tahun 2013 ini. Kenapa harus nge-blog? Atau nulis? Lain kali, gw ceritain ya kenapa. Untuk sekarang, gw sangat-sangat kebetulan punya hal untuk dibicarakan, bukan karena topiknya begitu berat dan dahsyat, tetapi memang kebetulan aja ada waktu buat nulisnya dan masih hangat banget nempel di kepala. Oh iya! Di sini, gw bahasanya agak santai aja ya, karena tulisan ini mau dibuat santai <<< stupid sentence, ignore it :b . Maksudnya, di sini kosa kata tidak terlalu kaku, mau ikutin topiknya aja biar gak kaku, sekalian kalau pake bahasa yang kaku, kesannya kaku banget <<< again, ignore it😀 . abisnya, tulisan gw sebelumnya, bahasanya beda banget sama tulisan gw yang satu ini. Namanya juga pemanasan, jangan langsung berat-berat lah literaturnya. Next time, we’ll get into that “heavy” part.

Di tulisan ini, gw mau sedikit mengutarakan apa yang menjadi badai di pikiran gw yang sukses membuat gw gak fokus ikut khotbah di gereja. Sampai pulang ke rumah, dan bengong sendiri meresapi semua yang muter-muter di kepala gw. Topik itu adalah broadcasting tv dan konsep.

Soal broadcasting tv dan konsep. Jujur, gw bukan anak broadcasting, tapi gw suka film. Dan soal konsep? Ya jangan tanya gw, tanya orang-orang di sekitar gw aja. Tapi, gw orangnya emang suka konsep-konsepin banyak hal di otak gw. Ngobrol soal broadcasting pasti langsung diidentikan dengan pekerjaan teknis. Banyak orang berpikiran, belajar atau kuliah broadcasting, yang penting prakteknya aja! *gubrakgubrukgebrak (langsung nyiapin kamera). Enggak salah sih. Gw udah denger beribu-ribu orang mengatakan berjuta-juta kali soal broadcasting dan langsung praktek. Gw sendiri sih sempet dapat mata kuliah soal produksi tv dan radio, tapi enggak membuat seakan-akan gw ngerti banget soal broadcasting, terutama tv ya. Tapi ada yang mengusik gw aja soal pemikiran langsung praktek ini.

SCTV award

SCTV award

Gw akan membicarakan apa yang gw lihat aja di tv, bukan mau ngomongin soal teknis atau bla bla lainnya. Dan gw akan membandingkan apa yang gw tahu soal itu. yang paling pertama adalah, kenapa acara tv, contohnya acara award atau penganugerahaan gitu, yang ada di tv Indonesia, selalu tidak pernah bisa menyamai kualitasnya dengan acara serupa yang ada di luar negeri? Seperti acara academy award, grammy award atau MTV Movie award yang ringan sekalipun. Kenapa? Terlihat sekali mereka GAGAL TOTAL dalam mencoba mengikuti kemasannya. Terkadang, menjadi garing, awkward, atau bahkan kesakralannya pun tidak terasa. Gw akan menjawab menggunakan teori gw sendiri: karena kita kurang pandai mengkonsepkan sesuatu.

Jika dibandingkan secara teknis, gw yakin secara lighting, kamera atau perlengkapan lainnya ada beberapa yang sudah standar internasional. Mereka mempunyai perlengkapan yang sama. Dan pasti, cara pakainya juga kurang lebih sama saja, paling beda merk aja. Soal persiapan, gw sangat yakin persiapannya pasti berbulan-bulan. Kan booking artis-artis ternama gak seminggu dua minggu. Tapi persiapan yang sudah matang dan jauh-jauh hari  itu saja, belum menyamai feel atau kesan yang didapatkan saat menonton acara yang serupa di luar negeri. Lalu, teori saya mengarah pada SDM atau orang-orang di balik acara-acara tersebut.

MTV movie award

MTV movie award

Saya mau cerita singkat sebentar deh, masih berhubungan kok. Saya punya teman, dia ada pengetahuan dan minat soal dunia broadcasting ini, kita pernah cerita-cerita soal film. Lalu, teman saya ini mengatakan ini,

“ eh yo, gw kemarin nonton film pendek keren deh!”

“ film apaan? Ceritanya tentang apa?”

“iya, jadi dia ngambil gambarnya keren gitu deh, dicepet-cepetin gitu, terus blur ada bokehnya gitu, bikin film juga yuk, yo!”

Jegeeeerr! Cuma gara-gara “keren” gambarnya dia mau buat film? Pas gw tanya ceritanya soal apa, dia dengan cuek dan acuh tak acuh bilang tentang drama, dan lalu dia kembali membicarakan soal “gambar keren”nya itu. gw sendiri akhirnya tidak pernah tahu film apa yang ditontonnya, karena dia sendiri lupa judul filmnya apa. Terhipnotis mungkin sama gambarnya.

Dari apa yang gw tahu soal film (sok tahunya mulai keluar deh), gambar atau shot-shot yang “keren” aja, gak cukup untuk membuat sebuah film yang bagus. Harus ada elaborasinya sama cerita. Kan film bercerita bukan, kasih video-video keren kayak slideshow gitu. Tapi beberapa temen gw, yang kebetulan juga ada yang sudah paham di dunia broadcasting tv ini, punya pemikiran yang sama soal konsep ke”keren”an ini. Lalu, gw berpikir, apakah cara pikir orang-orang broadcast tv yang ada saat ini seperti itu? cara berpkikirnya: langsung praktek dan yang penting keren. Maaf, mungkin ada yang tersinggung saat membacanya, tetapi saya berpikir atas apa yang telah saya lihat di tv.

SCTV award

SCTV award

MTV movie award

MTV movie award

Ada beberapa acara tv yang bisa menyamai ke”keren”annya dengan acara tv luar. Tetapi, entah bagi gw tetep aja masih kurang feelnya aja gitu. Nah, menurut gw masalahnya ada pada konsepnya yang tidak utuh.

Kita coba ambil contoh salah satu kasus soal Festival Film Indonesia 2012 tahun kemarin ya. Jika ada yang sudah menonton acaranya, kita tahu habis ke mana uang 16 milyar masyarakat Indonesia. Joko Anwar, seorang sutradara dan penulis film yang kehebatannya sudah diakui dunia, pernah mengkritisi acara tersebut di twitternya. Dia tidak hanya bilang acara itu jelek, tetapi sedikit menjelaskan, (tentu saja dalam 140 karakter) kenapa dia bilang jelek. Dia sempat mengatakan, acara-acara seperti itu juga harus ada pace nya, sehingga tidak terlihat ngos-ngosan. Masuk akal sih, gw sendiri melihat acaranya memang jelek. Menurut gw jelek, karena pengisi acaranya dan pengambilan gambarnya payah. Tetapi, Joko anwar, yang filmnya udah keliling dunia, mengatakan sesuatu yang gw enggak sadar seharusnya “ada” di acara tersebut. Kredibilitas kritikkannya cukup harus diakui mengingat kapasitasnya sebagai filmmaker handal. Di brodcasting tv harus ada pace nya sama seperti di film.

Festival film Indonesia

Festival film Indonesia

Golden Globe

Golden Globe

Dan setelah gw tahu tentang eksistensi pace dalam broadcasting TV, terjawab sudah mengapa acara tv di Indonesia kurang dapat gregetnya gitu. Mungkin pace atau kecepatan/tempo salah satu faktornya. Lalu, siapa yang bertanggung jawab soal pace atau unsur intrinsik (gw sebutnya seperti itu aja ya, maksudnya unsur-unsur yang tidak terlihat, tapi ada dampaknya ke kita secara tidak langsung) itu? Ya orang-orang mengkonsepkan acara itu. mungkin ya, ini MUNGKIN, orang konseptor itu tidak mengonsepkan sesuatu dengan esensial, tetapi mereka hanya mengonsepkan sesuatu berdasarkan ke”keren”annya saja. Mengonsepkan sesuatu dengan esensial menurut gw, kita tahu benar meaning atau makna atas apa yang ada di dalam konsep kita, tidak hanya sebatas KEREN saja. “ Wah pakai ini aja nih, pasti KEREN, trus abis itu ini, pasti KEREN, akhirnya ditutup ini, karena KEREN” lalu, gw sebagai penonton, gubrak ke belakang dihajar oleh kata-kata KEREN.

Keren sih enggak apa-apa, tapi jangan maksa. Gw juga pernah atau bahkan sering sekali melihat musisi memainkan lagu dikemas dengan kemasan yang berbeda-beda di TV. Ada yang diiket tali trus, melayang-layang di penonton lah. Ada yang lagunya simpel aja, tapi tata panggungnya spektakuler sekali (tagline acaranya aja spektakuler), dengan diiringi ratusan penari yang seperti ingin tawuran. Lalu, gw melihat penyanyinya kebingungan gitu. Ekspresi mukanya seperi orang kesasar gitu, tidak tahu harus apa, padahal lagunya apa, atraksi panggungnya apa. Emang sih, sepertinya sih KEREN, tapi ibarat lagi dengerin band kawinan main, lalu ada gitaris masuk dan memainkan lagu-lagu Dragonforce. Gitarisnya sih jago maininnya tapi kan, ya enggak sreg aja ya. Tapi seperti itu apa yang gw lihat.

Nah, kalau konseptornya aja mikirnya cuma mau dapat KEREN nya aja, bukan menyamakan feel yang diinginkan ya buyar lah acaranya. Kadang gw lihat pikirannya sepertinya simple aja. Mau acara yang terkesan mewah, megah, ? Kasih aja warna emas-emasan atau sesuatu yang mengkilat-kilat di panggung. Tapi, coba kita liat acara Golden Globe, emang panggungnya luar biasa spektakuler dengan tata cahayanya yang silau dan hiasan-hiasan yang mengkilat? Biasa aja kan, tapi feel mewah, berkelasnya tetap bisa terasakan. Karena konseptornya gw yakin enggak hanya berusaha bikin acara yang KEREN, tapi juga berusaha memberikan feel  dia bayangkan kepada penontonnya. Dan yang jelas konseptor ini harus pengetahuannya luas, harus tahu psikologi warna dalam seni contohnya. Sebenarnya, ada bagian yang namanya art director di broadcasting tv, tetapi gw sendiri kurang tahun kerjanya apa, dan atas apa yang gw liat, dari segi keseniannya sampai konsepnya semua kayak nabrak aja gitu.

Tapi, seakan-akan program atau acara TV di Indonesia enggak da yang terkonsepkan dengan baik. Ada kok,. Coba gw mau ambil contoh acara Bukan Empat Mata dan Pas Mantab, sama-sama program TV talkshow. Gw pribadi menonton acara Bukan Empat Mata itu terhibur. Entah siapa bintang tamunya, gw tetep terhibur. Tapi, terhibur saja kan gak cukup ya? Gw kalau mau terhibur nonton bokep juga bisa, tapi apakah sehat? Gw merasa ada sesuatu yang janggal saat nonton Bukan Empat Mata. Gw sempet bingung apa yang membuat gw kayak enggak ‘klik’ aja ama nih acara. Setelah gw bedah, gw menemukan jawabannya.

Oke, pertama-pertama, Bukan empat Mata punya host pelawak, Tukul Arwana. Ada yang salah? Tidak apa-apa kok hostnya pelawak. Di luar negeri banyak kok yang seperti itu. Lalu, set panggungnya dibuat cukup mewah dengan warna-warna ligthing yang mendukung kemewahan dan berkelasnya. Ditambah, band pengiring juga. Lalu, di sini yang membuat gw janggal, ada penonton yang duduk lesehan di depan set panggung itu, ditambah gaya-gaya bercanda Tukul yang ala Srimulat, dan coba kita gabungkan dengan unsur-unsur sebelumnya. Boom! Nabrak deh. Ya, Tukul bercanda-canda dengan penonton dengan gaya Srimulat, padahal kita tahu Srimulat itu memiliki kesan komedi yang sederhana dalam pengemasannya. Tapi di Bukan empat Mata, kita melihat Tukul dengan set panggung yang cukup menawan dan berkelas, bercanda-canda seperti Srimulat. Ibarat nonton Srimulat, tapi enggak ada yang memerankan jadi pembantu atau satpam, semuanya menjadi orang-orang kaya. Enggak ‘klik’ aja menurut gw. Kalo dibilang kreatif, ya kreatif ide mengemas acaranya. Tapi kita gak butuh kreatif saja, harus ada harmonisasi yang secara alam bawah sadar dapat memberikan kesan-kesan yang tepat kepada penontonnya. Gw sendiri, menonton Tukul terhibur, tetapi ada saat di mana gw ingin mengganti ke channel lain, bukan karena tidak terhibur, tetapi, kadang ada perasaan yang tidak ‘klik’ aja untuk melanjutkan menonton acara Bukan Empat Mata. Ditambah, acaranya running seminggu 5 kali kalau tidak salah. Bedeeeehh. Lumayan juga tuh.

Nah, sekarang kita bandingkan sama Pas Mantab. Dari pengisi acara sampai tata panggung dan mengemas acaranya menurut gw punya kadar yang pas dan seimbang. Kita punya pembawa acara yang berjumlah 3 orang (Sule, Parto, dan Andre). Tata panggungnya juga biasa saja, dari kursi, meja sampai latarnya juga. Pas dengan gaya trio pelawak itu dalam membawakan acara. Gw melihat tidak ada yang dipaksakan jika dibandingkan dengan acara Bukan Empat Mata. Mungkin karena gaya settingnya dibuat mirip seperti acara mereka yang lainnya ( Opera Van Java), jadi mereka serasa di rumah sendiri. Agak kontras dengan apa yang gw lihat di Bukan Empat Mata. Tapi ya itu dia, acara Bukan Empat Mata seminggu bisa sampai 5 kali dan Pas Mantab hanya seminggu sekali kalau tidak salah.

Tapi, untuk program TV harian gw masih memaklumi lah, karena mereka harus digeber seperti sinetron stripping. Mungkin yang salah bukan konseptornya, tapi emang bos-bosnya aja yang mau acara TV mereka “seadanya”. Tapi, kalau soal acara-acara besar seperti acara award atau bahkan, acara ulang tahun stasiun TVnya itu sendiri, gw agak bingung aja sama kemasannya yang jauh dari acara serupa di luar negeri sana. Persiapaannya sudah berbulan-bulan lho! Bujetnya pasti tidak kecil. Tapi, enggak ada yang bener-bener menonjol, yang membuat gw, “wiiss! Gw pengen banget berdiri di panggung itu!” enggak ada. Semuanya “meh”.

Konsep. Ide. Padahal kita ada yang namanya internet. Di luar sana, banyak yang bisa membuat hal-hal luar biasa dari yang sederhana. Menurut, gw enggak ada salahnya kalau kita mencuri sedikit ilmu mereka. Contohnya, soal efek proyeksi 4d. Itu, gw udah liat di internet udah lama bener! Eh, baru-baru ini aja “dijual” jadi salah satu faktor ke”keren”an acara mereka. Seakan-akan mereka malas untuk mencari referensi di internet acara seperti apa sih yang bagus. Acara Academy Awards aja setiap tahun begitu-begitu aja, enggak ada yang spektakuler atau enggak ada artis yang diiket terus melayang-layang di atas panggung. Tapi, feel  agung, berkelas, dan sakralnya sangat terasa. Di sini, untuk memberikan feel  yang tepat aja masih susah, eh mau bikin yang spektakuler bombastis bagaimana gitu.

Kan kasian Agnes Monica. Masa’ dia sendirian yang bikin acaranya cetar membahana.

Anyway, gw mau share sedikit soal temuan-temuan gw di internet, bagaimana stasiun TV luar sana bisa membuat acaranya dengan baik. Dengan sederhana yang jelas.

see, dengan opening yang pas dengan lagu, semuanya terasa lebih harmonis dan enak dilihat. Gak perlu ribuan penari memenuhi panggung kan.

ini yang paling gw suka. Gaya kamera dan lightingnya mengikuti sekali dengan lagunya. seperti menonton video klip saja. Gak susah dan ribet-ribet amat kan ya? modalnya cuma, dengerin dulu lagunya sebelum on air, terus dikonsepin lagunya paling enak di shoot bagaimana.

mari bandingkan dengan yang ini.

begitu bombastis, besar dan spektakuler. tapi apakah lebih bagus dari video sebelumnya? tidak juga ah. bukan soal musisinya juga sih. tapi, ya begitulah.

Intinya, bukan soal broadcasting tv aja, karena kebetulan broadcasting tv masih berhubungan atau mirip-mirip sama film lah. Tapi, ini mungkin soal masih banyak orang yang kerja di industri kreatif misalnya, yang belum pandai mengkonsepkan sesuatu dengan tepat. Sebenarnya kita masih kurang referensi. Walaupun itu tidak bisa dijadikan alasan, karena hanya dengan sekali entuh atau sekali klik, kita sudah bisa melihat dunia luar. Dan mungkin, ini soal industrinya juga, atau bos-bosnya yang ingin memiliki pegawai yang kemampuannya itu-itu saja. Sorang mantan wartawan senior Kompas pernah bercerita, kecenderungan dunia kerja sekarang, terutama industri kreatif seperti itu, bos-bosnya memang sengaja mencari orang-orang yang kemampuannya segitu-gitu aja. Kenapa? Agar digajinya bisa murah. Dan, mereka tidak akan rugi-rugi amat jika harus memecat orang-orang itu. kenapa? Ya, karena kemampuannya standar-standar aja, sekarang dipecat, besoknya sudah bisa menemukan penggantinya dengan mudah. Coba orang kayak Joko Anwar, minggat dari negeri Indonesia ini, harus mencari ke mana lagi orang sehebat dia. Tapi, soal dunia kerja ini, ntar gw juga mau cerita-cerita apa yang ada di otak gw. Pesan gw satu: enggak ada salahnya kok, kita bisa memakai kamera, tapi juga bisa berpikir dengan intelek. Jangan mikirnya cuma megang kamera terus tinggal disuruh-suruh.

🙂

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s