Bicara Seni dan Segala pernak-perniknya

Resensi The Godfather Saga: An epic Mafia Saga

Image

“I’m going to make him an offer he can’t refuse”

Don Vito Corleone, The godfather

Sepenggal kalimat di atas sangat cukup menggambarkan bagaimana para mafia berpikir. Sederhana tetapi “mengancam”.

Kekuatan cerita yang diangkat dari novel ini menguatkan hubungan satu film dengan yang lain menjadi saling berpengaruh. Dimana kejadian lampau yang akan membentuk kejadian di masa mendatang. Menceritakan kehidupan keluarga mafia Corleone yang dikepalai oleh Don Vito Corleone .Don Vito, ayah dari 3 anak ini selain memiliki gelar Don, juga memiliki panggilan yang lebih akrab dan terhormat, yaitu Sang Godfather(ayah baptis) yang didapat saat menjadi ayah baptis dari seorang penyanyi atau anak didikannya. Selanjutnya, cerita akan berkutat pada kehidupan mafia Don Vito yang keras dan berlanjut sampai pada masalah keluarganya yang sangat kompleks.

Setelah menonton ketiga film ini, saya berpikir bahwa film ini tidak boleh dilihat dengan terpisahkan atau dinilai dari perspektif setiap filmnya. Ketiga film ini merupakan suatu kesatuan dari cerita mafia yang sangat epik. Membandingkan setiap serinya dengan seri yang lain merupakan kesalahan besar. Film ini satu karena kesinambungannya yang begitu kuat terasa hingga seakan-akan membaca 3 film menjadi 1 buku.

Cerita The Godfather saga ini dapat dianalogikan seperti “sehabis gelap terbitlah terang”.

Film The Godfather pertama seperti halnya sore hari yang menuju malam. Memberikan suasana yang pelan-pelan membawa kita dengan hangatnya matahari yang mulai redup dan akhirnya meninggalkan kita dengan malam yang dingin, mencekam dan gelap. Kematian Godfather kita, Don Vito, telah menutup senja hari yang indah, dan dijemput dengan jahatnya malam oleh Michael Corleone(Al Pacino). Di mana pada filmnya yang kedua, semuanya lebih gelap dari sebelumnya, ditambah dengan suramnya masa lalu dari Don Vito Corleone yang memulai bisnis mafiosonya. Pada bagian ini, lebih ditekankan pada perbandingan dari 2 Godfather yang berbeda generasi. Cerita latar belakang kehidupan Don Vito adalah mimpi masa lalu yang kelam, sedangkan kehidupan Don Michael adalah kenyataan malam gelap yang saling bertolak belakang satu sama lain. Memang,Don Michael bukanlah Godfather sejati, dia telah membuat ayahnya sedih dengan ironis.

Matahari mulai membuka sedikit cahaya dari film yang ketiga. Malam telah lelah, matahari siap menggantikannya dengan siklus waktu yang kekal. Regenerasi pun terjadi. Don Michael memberikan sentuhan terakhir dalam film ini dengan kesedihan yang perih dan mengerikan seperti tersakiti oleh kenyataan yang dibuatnya sendiri. Malam telah sirna. Hari yang baru dimulai oleh Don Vincent Mancini, sebagai Godfather yang baru, walaupun kita tidak akan tahu sejauh mana keluarga Corleone akan dibawa olehnya. Apakah dia justru akan memberikan mimpi buruk yang baru? well Obviously, they are all evil.

Let’s talk about the real story.

Saya tidak akan menjabarkan setiap plot cerita dalam ketiga film ini, tetapi saya akan mencoba menginterpretasikan esensi dari setiap cerita yang mau disampaikan.

The Godfather saga mempunyai ciri khas dalam setiap opening scenenya. Adegan selalu dibuka dengan hingar-bingar pesta yang dihadiri oleh para mafia dan orang-orang penting, entah dalam pesta pernikahan atau hanya sekedar pesta perayaan baptis. Pesta yang disajikan oleh sutradara Copolla adalah pesta kamuflase yang menyembunyikan segala pekerjaan kotor para mafia dengan wajah-wajah polos para tamu yang bahagia sedang menikmati pesta. Copolla mengarahkan dengan drastisnya sebuah pesta yang penuh kebahagiaan menuju gelapnya dunia mafia bekerja. Adegan demi adegan ditata dengan “kaku” seperti mengenalkan karakter mafia dalam bekerja. Mereka bekerja sangat rapi seakan-akan mereka tidak ingin menodai pakaiannya yang “bersih”. Klimaks dari setiap film juga memiliki ciri khasnya tersendiri. Dari mata saya sebagai penonton, klimaks yang diberikan lebih menegaskan sifat dari pemeran utama kita dalam trilogy film ini, Don michael, yang begitu tenangnya melakukan segala pekerjaan mafia tanpa bercampur emosi. Ketenangan itulah yang menjadikannya sebagai sosok mafia yang paling ideal. Mungkin pada zamannya, adegan tersebut adalah adegan paling dramatis yang pernah ada. Don Michael dengan muka paling dingin dan tenang menutupnya dengan muka yang sama sekali tidak berdosa.

Pada film The Godfather bagian kedua, Copolla lebih menggali dalamnya karakter dari Don Michael dengan melibatkan konflik-konflik dari internal maupun eksternal yang sangat kompleks. Di sinilah Al Pacino memberikan permainannya yang terbaik walaupun gagal mendapatkan Oscar. Al Pacino atau Don Michael akhirnya menjadi poros dalam kelanjutan cerita mafia ini. Segala kesalahan-kesalahan terbesarnya pada bagian kedua ini yang akhirnya menyakiti dirinya sendiri. Don Michael telah membuat mimpi buruknya sendiri.

Chapter terakhir dalam saga ini, Don Michael terbebani dengan dosa-dosanya yang disadari setelah sekian lamanya. Dia telah bercerai, anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan mengikuti ibunya. Putranya yang diharapkan sebagai penerus bisnis keluarga bahkan hidup sebagai musisi, menentangnya. Putrinya aktif dalam kegiatan sosial. Dia tidak melihat adanya masa depan dalam bisnis yang telah dipertahankan selama bertahun-tahun dengan darah dan keringat. Dia telah hidup sendirian. Pesona mafianya telah pudar dengan ditutupi usia dan calon penerusnya, Vincent Mancini. Agak disayangkan cerita dalam film yang ketiga ini sedikit kendor. Kehadiran Vincent Mancini sangat dipaksakan bahkan karakternya dibuat sama dengan ayahnya, Sonny Corleone, walaupun tetap diperankan dengan sangat baik oleh Andy Garcia. Tetapi, saya cukup tertarik dengan ide cerita yang seakan-akan dunia berbalik men”jahat”kan Don Michael. Don Michael yang menangis di depan pastur, memakan permen untuk penyakit gulanya, dan menangis mendengar anaknya menyanyi, menunjukkan sisi manusianya yang lelah akan segala dosa yang telah dilakukannya. Semua emosinya meluap pada saat putrinya, satu-satunya orang yang mungkin masih sangat menyayanginya, mati menjadi korban dari dunianya yang kejam. Tangisannya sangat memekikan telinga. Don Michael mati tanpa siapapun yang menyayanginya di sampingnya, hanya seekor anjing yang menyambut kematiannya dengan gonggongan.

Film ini sempurna dari berbagai aspek yang ada.Dan yang paling menonjol adalah setiap peran dimainkan sangat apik oleh para castnya. Kita semua juga tahu siapa The Godfather sebenarnya dalam cerita ini, yaitu Don Vito Corleone yang diperankan sangat luar biasa oleh Marlon Brando yang akhirnya dijadikan ikon tersendiri untuk film ini. Sehingga ketika kita mendengar kata The Godafather, maka muka beliaulah yang akan terbesit di pikiran kita.

Kita juga harus berterima kasih kepada Mario Puzo yang telah menulis cerita mafia terbaik. Dari pembangunan karakter sampai konflik-konflik yang terjadi semakin menggambarkan dunia mafia. Copolla juga sangat berhasil dalam memvisualisasikan cerita ini. Deretan nama-nama pemainnya sudah sangat mendukung kualitas yang diberikan film ini. Dan yang paling memberikan atmosfernya paling kental adalah musik. Sangat berkelas dan berkarakter. Masih banyak yang bisa dibahas dari film ini,tetapi biarlah karya seni itu tinggal tak terjamah oleh pikiran kita untuk tetap menjaga estetikanya yang misterius. stupefacente!!

Selamat The godfather saga karena telah masuk daftar film terfavorit saya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s