Bicara Seni dan Segala pernak-perniknya

Resensi Cin(T)a: Manusia, Cinta dan Tuhan

Image

OK……..ini adalah resensi film pertama yang pernah saya buat.

Sebelumnya saya tidak mempunyai keberanian untuk menulis sebuah resensi film karena saya tipikal orang yang memaklumi segala yang ada dalam film, jadi kurang lebih saya kurang kritis dalam menonton film atau tepatnya tidak mau kritis. Saya hanya ingin menjadi orang yang menikmati film apa adanya,toh dasarnya saya juga tidak bisa kritis terhadap film yang saya tonton. Saya memang tidak cocok menjadi kritikus, lebih cocok di kritik(maksudnya jadi filmmakernya hehe). Jadi, saya akan memberikan penilaian film berdasarkan pada apa yang saya lihat dan saya pikirkan.

Cin(T)a………….saya sangat bersyukur sekali mengetahui film ini ada, karena film ini membuka mata saya akan kapabilitas filmmaker indie(thank God,you exist,kaskus!). Dan filmmaker yang pantas dipuji di sini adalah Sammaria Simanjuntak, Tuhannya film ini. Dia memegang 2 peranan penting dalam membuat film ini, yaitu kursi sutradara dan penulis script, walaupun scriptnya dibantu oleh orang lain tetapi saya percaya ide cerita dari film ini berasal darinya. Mungkin ide dari film ini tidak terlalu brilian tetapi bagi negeri ini cukup menantang(tetap, yang memegang ide cerita paling bagus menurut saya Janji Joni nya Joko Anwar,Original!). Di sinilah menurut saya, saya harus menonton film ini!

Pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa film ini melebihi ekspetasi saya. Outstanding!

Film dibuka dengan opening yang simple dan tidak terlalu muluk-muluk, namun tidak disangka nanti kita akan dibawa ke topik yang lebih berat. Tapi, saya agak mengeluhkan dengan teks bahasa inggris yang ada di film ini ,karena secara tidak sengaja saya selalu dibawa untuk melihat teks tersebut, dan kurang mendapat feel dari dialog-dialog film ini. Di awal-awal film juga soundnya sangat parah, tidak tahu itu kesalahan teknis dari bioskopnya atau memang sound effectnya sangat disturbing sekali sampai-sampai saya tidak terdengar perkataan-perkataan aktornya. Untungnya itu hanya terjadi sekitar 10 menit pertama dalam film ini, selebihnya lancar! Film lalu berjalan dengan tempo yang cukup baik dan tidak boros. Kita cepat diperkenalkan oleh 2 tokoh yang ada dalam film ini, secara singkat, padat dan cukup.Dalam perjalanan filmnya,  kita diperkenalkan tokoh ketiga oleh 2 tokoh tersebut,Yaitu Tuhan.

2 tokoh ini bernama Cina dan Anisa. Cina, beretnis Batak dan beragama Kristen. Anisa beretnis Jawa dan beragama Islam. Sudah mulai mengerti cerita film ini kan?

Ya itulah yang mau disampaikan oleh film ini. Cinta antar beda agama dan beda suku. Tapi, elemen suku di sini hanya dijadikan untuk memperkuat karakter tokoh dari film ini. Jika anda mempunyai teman seperti mereka (batak Kristen atau Jawa Islam), sifat mereka semua hampir sama (masalahnya saya mempunyai teman seperti mereka). Dan sang sutradara berhasil mengangkatnya dengan arahan dan script yang kuat. Lalu, bisa ditebak bahwa mereka berdua saling jatuh cinta. Pelan-pelan perbedaan ini mulai dirasakan, tapi masih dianggap sepele bahkan menjadi lucu bagi saya. Yang akhirnya benar-benar menjadi masalah dalam hubungan mereka. Sebenarnya tidak ada yang salah dari mereka berdua, hanya saja perbedaan ini tidak bisa dihindari. Dan alhasil mereka memilih untuk berpisah.

Hal yang paling kuat dari film ini adalah unsur instrinsiknya, the script. Waaaaaaahhhhhhh, sepertinya dunia perfilman Indonesia kedatangan penulis berbakat lagi setelah Joko Anwar. Filmnya dibawa sangat ringkas dan cukup sekali oleh scriptnya. Tak hanya itu, dialog-dialognya sangat kuat sekali dan begitu cerdas dalam penyampaiannya. Lelucon-leluconnya juga mengalir saja seperti air. Dan pembentukan karakter dalam film ini juga sangat pintar, dari perbincangan saja kita sudah bisa mengenal watak masing-masing tokoh. Bahkan, untuk menunjukkan perasaan dari tokoh-tokoh itu digambarlah muka di jari telunjuk mereka, dan menurut saya itu sangat kreatif sekali karena benar-benar mewakili perasaan mereka . Dari awal samapi akhir script dari film ini cukup sempurna.

Setiap penggambaran-penggambaran film ini cukup bagus. Kamera di sini bermain-main jarak dekat atau close up untuk beberapa adegan yang memang dibutuhkan. Jadi setiap gambar yang kita lihat tidak mubazir. Sungguh gambar yang indah dan berisi. Bahkan, pengambilan anglenya tidak membiarkan wajah pemeran lain terambil, membuat film ini lebih intim lagi karena hanya menyertakan wajah 2 tokoh tersebut (jadi film dibuat lebih simple lagi oleh cinematografernya) dan Tokoh Tuhan yang tidak berwujud (hanya digambarkan oleh pemikiran-pemikiran kedua tokoh tersebut).

Seperti yang saya sebutkan di atas, pemeran film ini hanya 2 saja, yang lainnya hanya figuran atau numpang lewat (bahkan wajahnya saja tidak tersorot, kasihan). Pemeran dari film ini adalah aktor pendatang baru semua. Tapi, penampilannya tidak mengecewakan. Mereka benar-benar berusaha dalam menciptakan karakter-karakter ini, dan mereka berhasil. Benar-benar beban yang berat karena mereka hanya bermain berdua dan durasi film yang tidak lama, mereka harus bisa membawa tokoh-tokoh ini dengan jelas. ”Tuhan” disini hanya seperti menjadi kambing hitam dari masalah-masalah mereka. Mereka seakan-akan menyalahkan Tuhan akan segala yang terjadi dalam hidup mereka. Yang akhirnya menjadi landasan dari konflik film ini

Dari segi musiknya cukup mengangkat suasana dalam setiap adegan. Film ini seperti dibuat oleh orang-orang yang sudah handal di bidangnya. Padahal mereka adalah orang-orang baru di dunia film Indonesia. Salut.

Oke………dari tadi saya hanya membicarakan kelebihan dari film ini, tapi jangan dikira film ini tidak mempunyai kelemahan. Kelemahan itu pasti ada.

(bagi yang sudah menonton pasti tahu yang saya bicarakan)

Ada adegan,yang dimana perbincangannya agak memaksa ,niatnya sih bagus, tapi kurang pas pencapaian kesananya. Jadi,agak lost juga pada saat mereka ngobrol (pada saat adegan muter-muter)

Dan paling disayangkan adalah pada saat bagian klimaksnya yang seharusnya membuatku merinding seru, malah bertanya bingung. Untung pada saat di akhirnya terjawab, tapi tetap membuatku aneh. Cara penyampaiannya pada konflik si Cina membuatku aneh dan bingung. Penggambaran adegannya kurang indah dibandingkan sebelumnya. Tapi, saya juga dibantu oleh video interview tentang kesaksian pasangan beda agama (yang diselipkan ditengah-tengah film ini), yang ternyata poin penting dalam penyampaian pesan film ini.

OK……………………..

Saya telah menangkap pesan dari film ini (dibantu oleh kesaksian video-video interview tersebut). Film ini tidak memberi contoh yang baik tentang pasangan beda agama. Tidak. Film ini hanya ingin kita untuk belajar bertoleransi terhadap beda agama, itu saja. Pesannya simple, tapi menurut saya cukup personal untuk pembuat film ini (menurut saya si sutradara ini). Film ini berhasil dalam pesan yang ingin disampaikan secara pintar dan tidak menceramahi. Kita sendiri yang harus menarik kesimpulan terhadap pesan apa yang ingin disampaikan film ini. Film ini berhasil. Salut. Salut.

Sayang film ini gaungnya kurang didengar di kalangan filmmaker dan kritikus, saya sangat menanti komentar mereka. Film ini bisa menjadi catatan penting dalam perkembangan perfilman Indonesia.

Cin(T)a (2009)

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s