Bicara Seni dan Segala pernak-perniknya

The Truman Show

Trumanshow

I love it.

Sudah lama juga ya saya tidak menulis tentang film.  Sebenarnya banyak film-film oke yang asyik dibicarakan, tapi tidak ada waktu untuk menulisnya. Sekarang, saya punya waktu dan film yang oke untuk dibicarakan, film The Truman Show.

Awalnya, saya sama sekali tidak tahu film ini tentang apa. Pernah mendengar, tetapi tidak punya alasan kenapa harus menontonnya. Sampai suatu ketika, kritikus film Amerika, Scott Weinberg, men-tweet contoh film-film dengan skrip brilian. And guess what, The Truman Show just popped out.  Tanpa pikir panjang, saya unduh, tonton dan memang benar, brilian!

Film ini sendiri bercerita tentang seorang pria bernama Truman, yang seluruh kehidupannya dijadikan acara reality show tv tanpa ia sadari. Saat saya membaca sinopsis cerita ini, imajinasi saya mulai liar tentang film seperti apa yang akan saya tonton. Dan ternyata film ini jauh lebih liar dari imajinasi saya. Liar dalam caranya sendiri.

Sebenarnya film ini mengingatkan saya dengan film Cabin in The Woods yang tahun lalu tayang. Dasar ceritanya hampir sama. Karakternya bergulat dengan dunia yang sedang direkayasa. Saya pribadi hanya menikmati setengah dari keseruan film The Cabin in The wood, karena referensi film horror saya yang masih secuil. film The Cabin in The Wood ini ini sebenarnya love letter untuk para penggemar film horro. Namun untuk film The Truman Show, saya menikmati benar-benar sepenuhnya. The Truman Show ini memiliki dunianya sendiri yang asyik untuk diutak-atik. Saya akan bicarakan dunia dalam The Truman Show ini.

Pertama kali menonton dunia dalam The Truman Show ini, saya merasa ada yang janggal. Saya agak sulit menyadari apa yang janggal dalam film ini. Setelah 10 menit menonton, saya menyadarinya. Setting properti dunia dalam The Truman Show ini terlihat sangat bersih. Bersih sekali. Warna-warnanya terang dan mencolok. Semua karakternya tersenyum sumringah. Saya tahu dunia Truman ini sengaja diset seperti studio TV, tetapi bagi saya menjadi bentuk ejekan atau sindiran terhadap dunia acara pertelevisian. Dalam adegan awal, sempat disinggung bagaimana dunia televisi begitu palsu dan menyedihkan. Namun, terlihat begitu bahagia. Ini yang coba diceritakan dalam film The Truman Show.

die-truman-show-004

Cerita dalam film ini mengikuti perjuangan Truman yang berusaha keluar dari dunia palsu atau rekayasa ini. Endingnya sih, Truman bisa keluar dari dunia itu, tetapi ada hal menarik yang disinggung sebelum ia keluar. Christof, sang pembuat acara reality show ini mengatakan, jika Truman keluar, ia akan menemukan kebenaran yang sangat menyakitkan, bahwa dunia sebenarnya tidak akan seindah dunia dalam acara televisi itu. Dunia dimana Truman memiliki masyarakat yang ramah sekali kepadanya. Dunia yang sudah diatur sedemikian rupa, agar hidup Truman lurus-lurus saja dan aman. Memang benar, television show is too good to be true.

Jika film The Cabin in The wood adalah love letter untuk peggemar film Horror, maka film The Truman Show adalah pie in the face untuk dunia pertelevisian di mana pun. Saya yang menonton film ini benar-benar terpikat dengan karakter Truman ini. Saya berempati kepadanya saat ia kebingungan. Lucunya, penonton reality show ini juga kasihan kepada karakter Truman yang terjebak dalam dunia rekayasa ini. Mereka penonton setia reality show ini, tetapi kasihan dengan Truman? What the f**k! Kalau kasihan, TV nya dimatikan tidak usah ditonton, nanti rating akan turun, dan Truman akan dibebaskan dari dunia itu. mudah kan? Namun, kenyataannya tidak. Tidak untuk penonton dalam film ini atau bahkan untuk penonton dalam dunia nyata sekalipun. Film ini menggambarkan bagaimana memuakkannya sikap orang-orang yang menonton reality show atau yang membuatnya. It’s like the whole thing about Television show is sick.

Ya. film ini memang kurang lebih berpesan seperti itu atau itu intepretasi saya terhadap film ini. Film ini masih membuka banyak ruang intepretasi. Bahkan bisa dipandang dalam filosofi yang lebih dalam, misalkan ketuhanan. Film ini juga bisa merupakan ejekan kepada Tuhan. Ejekannya bagaimana? Silahkan ditonton filmnya dan dipikirkan sendiri. Terutama di bagian akhir film ini. Apakah kebetulan nama dari kreator reality show ini CHRISTof? Anda bisa menerka-nerka sendiri. Namun, sederhananya film ini berbicara mengenai dunia pertelevisian. Fake people.

Film ini memang brilian. Bukan hanya soal apa pesan dari film ini, tapi bagaimana dikemasnya. Pemahaman saya tentang skrip film yang bagus masih dangkal sekali.  Yang saya tahu, film ini memiliki plot cerita yang membuat kita ingin terus mengikuti kisah Truman sampai akhir. Setiap plotnya menurut saya merupakan kejutan demi kejutan. Jim Carrey yang ekspresif sangat ciamik sekali menghidupi plot cerita ini sehingga bisa mendapatkan empati dari kita untuk terus ditonton. Motivasi Truman jelas, jadi kita mengikutinya enak. Seperti Joker dalam The Dark Knight. Kita selalu menanti apa yang akan dilakukan si Joker ini. Kita tahu Joker mau meilhat dunia terbakar, tetapi bagaimana terbakarnya itu yang mendorong kita.

Satu hal yang saya pelajari dari film yang dibilang memiliki skrip brilian ini adalah, film ini bisa membuat dunianya sendiri terpisah dari dunia nyata yang ada di pikiran kita.  Dunianya dibangun tanpa sadar. Setelah memiliki dunianya sendiri, dan kita sudah terdorong untuk mengikuti Truman, kita seperti sedang duduk di dalam mobil yang sedang disupiri oleh filmmaker film ini. Tiba-tiba belok kanan, kiri, berputar, berputar dan semuanya tidak sama lagi.

About these ads
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s